Serentaun ke-647 Kasepuhan Ciptagelar: Melongok Masa Lalu Dan Masa Depan*

  Posted on   by   No comments

Kesibukan kembali bergulir di Kasepuhan Ciptagelar pada 25 sampai dengan 27 September 2015. Tak terasa kegiatan Serentaun kembali digelar sejak masa tanam padi tahun ini dimulai pada akhir tahun lalu. Tahun ini Serentaun Kasepuhan Ciptagelar telah diselenggarakan untuk yang ke-647 kali sejak pertama digelar pada tahun 1368. Sekurangnya satu minggu sebelum kegiatan Serentaun diselenggarakan, warga sudah sibuk dengan macam-macam aktivitas. Secara garis besar beberapa persiapan yang dilaksanakan diantaranya adalah sebagai berikut:

Rebo – Beberes Pamageran
Kemis – Beberes Pagawe
Jumaah – Mulai Gawe
Sabtu – Pameran
Minggu – Ngadiukeun
Senen – Rasul
Salasa – Beberes Mantas Gawe
Rebo – Turun Nyambut

Setiap kegiatan di Kasepuhan Ciptagelar biasanya selalu ditandai dengan prosesi untuk mengawali dan
mengakhiri kegiatan secara khusus. Kegiatan Serentaun juga diinisiasi dengan sebuah tahapan di awal kegiatan, mulai dari prosesi memohon izin untuk peminjaman alat, bangunan, tempat atau berbagai ruang dan lokasi yang akan dipergunakan. Prosesi ini merupakan tradisi leluhur yang juga dilakukan untuk memulai pekerjaan apa saja. Para pakerja adat juga biasanya melaksanakan kegiatan turunan untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan tugas yang diemban oleh garis keturunannya. Prosesi ini biasanya disebut dengan “Beberes”.

IMG_6417

Salah satu acara adat yang penting diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan Serentaun diantaranya adalah Salametan. Kegiatan ini ditandai dengan dimulainya prosesi mempersiapkan lauk pauk yang biasa disebut dengan “Acara Peupeuncitan”. Prosesi ini biasanya dilanjutkan dengan aktivitas memasak untuk berbagai kegiatan selamatan, semisal “Salamet Salauk” (syukuran selesai memotong ayam dan lauk pauk), “Salamet Sakebo” (syukuran selesai memotong kerbau, “Salamet Sakueh” (syukuran untuk pembuatan dan pembelian ragam jenis kue), dsb. Rangkaian puncak dari kegiatan Serentaun adalah prosesi Ngadiukeun Pare di Leuit yang biasanya diisi dengan ritual rajah dan doa.

Dalam setiap acara Serentaun biasanya juga ada pameran karya seni dan kerajinan, selain pertunjukan kesenian. Bagi warga Kasepuhan Ciptagelar, acara Serentaun adalah waktu untuk berpesta merayakan kebahagiaan dari apa yang telah dihasilkan, baik berupa hasil bumi, karya kerajinan, ataupun kesenian yang dipertontonkan untuk khalayak umum. Semua karya yang ada dipamerkan di ajeng (panggung) pameran, sementara untuk pertunjukan seni ditampilkan di panggung yang telah disediakan. Khusus untuk hasil bumi yang dipamerkan biasanya adalah hasil tanam selain padi, seperti misalkan sayur mayur, buah buahan, umbi umbian ataupun tanaman yang memiliki nilai ekonomi.

Beberapa karya kerajinan yang dipamerkan biasanya alat atau barang yang dipakai sehari-hari, yaitu diantaranya adalah boboko, aseupan, hihid, centong nasi, doran pacul, bedog, peso, sapu, dsb. Sementara seni pertunjukan yang pasti ada yaitu seni Angklung Dogdog Lojor, yaitu kesenian buhun yang sudah ada sejak masa kelahiran Kasepuhan dan akan tetap ada sampai kapanpun selama tradisi leluhur yang memuliakan tanaman padi tetap dipelihara. Beberapa kesenian lain yang biasanya ikut ditampilkan adalah Wayang Golek yang merupakan tontonan sekaligus tuntunan bagi warga Kasepuhan. Dalam acara Serentaun ke-647, pertunjukan Wayang Golek secara khusus menampilkan dalang Opick Sunandar Sunarya.

ngunjal

Selain pertunjukan Wayang Golek, kegiatan Serentaun juga biasanya menampilkan Seni Topeng yang mengisahkan lakon sejarah dan keseharian dalam bentuk panggung drama tradisional, Seni Jipeng (Seni Tanji dan Topeng) yang merupakan hasil akulturasi dengan budaya Barat (Tanji), serta kesenian buhun lain seperti Debus, Ujungan, Calung Rantay, dan Seni Pantun yang merupakan kelengkapan kesenian di Kasepuhan Cipatagelar. Seluruh kegiatan kesenian ini juga dilengkapi dengan prosesi adat yang disebut Ngunjal, atau membawa padi dengan alat pikul yang disebut Rengkong. Salah satu acara puncak dari kegiatan Serentaun adalah prosesi Ngadiukeun yang merupakan bagian dari ritual adat yang sebetulnya berlangsung secara terpisah sebagaimana acara Ngunjal.

Sebagai pesta panen, kegiatan Serentaun biasanya memang dipenuhi dengan kegiatan hiburan yang disuguhkan untuk warga dan para tamu yang datang ke Kasepuhan. Sambutan penerima tamu dan palawari yang menyiapkan makanan untuk para pengunjung adalah bagian dari tradisi serta budaya yang mengakar di Kasepuhan Ciptagelar. Mereka yang secara khusus datang di acara Serentaun biasanya tinggal dan menginap di rumah warga. Hal ini juga merupakan tradisi lama yang berlangsung setiap tahun. Bagi warga Kasepuhan, Serentaun dianggap selalu membawa berkah bagi yang datang maupun yang kedatangan. Biasanya pada kesempatan berikutnya akan terjalin hubungan kekeluargaan dan keakraban diantara para tamu, pedagang, maupun pendatang. Untuk masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, acara Serentaun adalah kegiatan tutup tahun pertanian dan sekaligus kegiatan menyambut tahun baru pertanian dengan catur rangga, “Nyoreang Alam Katukang, Nyawang Mangsa Nu Bakal Datang”.

*Reportase oleh Yoyo Yogasmana

Categories: BeritaTags: ,

Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen + nineteen =

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.